Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz, yang saya ingin tanyakan, bagaimana hukumnya jodoh dalam Islam, yang sudah ditakdirkan sejak dalam kandungan? Sebenarnya jodoh itu hanya satu atau bisa lebih dari satu? Contohnya seperti banyak di kalangan selebriti yang nikah lalu cerai lagi, tapi pada akhirnya mereka menikah dan langgeng hingga mati.Yang manakah jodoh sebenarnya suami/istri yang pertama dinikahi lalu dicerai atau yang terakhir dinikahi hingga mati? Kalau salah satunya bukan jodohnya, lalu mengapa mereka menikah juga? Apakah ini juga merupakan takdir dari Allah s.w.t. Atas jawabannya terima kasih. Wassalamualaikum. wr. wb.

Nia

Jawaban:

¬†Assalamualaikum ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du Pengertian tentang masalah jodoh memang seringkali membuat rancu cara berpikir kita. Seolah-olah bila disebut kata ‘jodoh’, maknanya adalah pasangan seumur hidup hingga mati dan jumlahnya hanya satu. Padahal yang namanya jodoh atau pasangan hidup itu mungkin saja tidak harus seumur hidup dan jumlahnya bisa saja bukan hanya satu. Jadi kalau ada seorang laki-laki menikahi wanita, dikatakan bahwa mereka menjadi jodoh atau pasangan. Namun ketika mereka bercerai, dikatakan bahwa perjodohan mereka sudah berakhir. Dan bila laki-laki itu menikah lagi dengan wanita lainnya, maka pasangan baru itu adalah jodoh. Dan begitulah seterusnya. Semua kejadian itu sudah ada dalam lauhil mahfuz, tempat di mana dituliskan semua kejadian yang akan terjadi. Namun kita sebagai manusia tidak pernah tahu seperti apakah bentuk serta ketentuannya. Juga kita tahu apakah Allah akan benar-benar menjalankannya ataukah akan merubahnya. Semua itu adalah urusan ghaib dan hanya menjadi rahasia Allah semata. Sama sekali kita tidak boleh mengatakan bahwa kalau semua sudah ditakdirkan. lalu buat apa berusaha. Sama sekali tidak.vCara berpikir demikian adalah cara berpikir yang keliru, rancu dan sesat. Sebab Allah memerintahkan kita untuk bekerja, berikhitar dan berusaha, termasuk dalam memilih dan mencari jodoh yang terbaik. Karena ada perintah, berarti salah besar bila kita hanya diam saja. Dan Katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105) Bila masalah ini kita perlebar cakupannya, berlaku juga dalam masalah ajal seseorang. Yakni ajal seseorang memang telah ditetapkan oleh Allah SWT, namun tidak ada seorang pun yang tahu kapan akan terjadi. Sementara Allah SWT sendiri memerintahkan seseorang untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dalam hidupnya. Bahkan pembunuhan atau penghilangan nyawa manusia. Salah besar bila seseorang menantang maut semaunya sendiri tanpa memperhatikan keselamatan nyawanya, karena beralasan bahwa urusan ajal adalah urusan Allah SWT. Allah melarang seseorang menceburkan diri ke dalam jurang kehancuran, sebagaimana firman-Nya: Dan belanjakanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Baqarah: 195) Demikian, semoga bisa dipahami dengan baik. Wallahu A’lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.